Kalau kamu baca blog ini (sepertinya emang kamu baca), tolong ya tolong pertanyaan aku di jawab dengan jelas. Jangan separo-separo. Aku gak suka yang separo-separo, kecuali separo harga. Dan FYI aja nih, aku nulis cerita ini bukan karna aku marah, gak ikhlas, atau segala pikiran negatif lainnya yang bersarang di kepala kamu. Tapi karna aku bingung. Iya bingung.
Aku emang tipe cewe yang gampang bingung. Yang harus dijelasin dulu baru ngerti. Apalagi kalau masalah hubungan emosional dengan lawan jenis. Aku ngga pernah bisa ngerti sama yang namanya isi kepala cowo. Rumit. Seperti juga kalian yang bilang kami para cewe rumit, kalianpun begitu bagi aku.
Nah, menurut aku sih wajar aku bingung. Karna kamu emang aneh belakangan ini. Dan hari ini, kamu mengungkapkan rasa rindu yang terlalu bertubi-tubi. Setelah itu mengucap maaf untuk semuanya. Jujur, aku penasaran. Apa kata maaf itu karna kamu sadar udah hilang tiba-tiba tanpa penjelasan, atau buat hal lain? Kamu juga enggan sepertinya memberi penjelasan lebih lanjut. Dan ya, lagi-lagi aku gak akan memaksa kamu buat jelasin lebih jauh. Buang-buang energi menurutku.
Aku juga punya rasa rindu. Tapi mungkin takarannya sudah berbeda dengan rindu yang dulu pernah aku punya. Bukan lagi rindu yang akan menyesakkanku selama beberapa waktu. Bukan lagi rindu yang dapat membawa keluar air mataku dari persembunyiannya. Intinya, perasaan yang dulu telah bermetamorfosis. Posisi kamu ngga lagi menjadi yang utama, meski kamu tetap punya ruangan tersendiri dalam bilik-bilik memoriku.
Kalau di tanya apa ada orang lain dalam hidup aku saat ini, ya memang ada. Tapi kalau pertanyaannya kamu ganti jadi apa dia yang menggeser posisi kamu, jawabannya bukan. Kamu sendiri yang menggeser posisi kamu. Sikapmu sendiri yang menyebabkan segala perubahan ini. Yah, hukum sebab-akibat ngga pernah meleset menurutku.
Jadi meski kamu sekarang datang lagi dengan segala keanehan dan kata rindu itu, jangan khawatir. Sebab aku bukan Hani yang dulu lagi. Aku memang maafin kamu, tapi bukan berarti segalanya kembali seperti dulu. Jangan salah artikan candaan ku, sebab aku hanya merespon candaanmu.
Dan meski kamu minta sama aku untuk gak lari lagi (entah bercanda atau ngga), tapi maaf sepertinya kamu salah mengerti. Aku bukannya lari dari kamu, tapi aku memang sudah terlanjur melangkah pergi dari rasa itu sejak saat kamu menghilang begitu saja. Dan kata-kata kamu, bahwa kamu gak ingin orang lain yang menangkap aku, percayalah itu hanya sekedar rasa egoismu semata. Betapa tidak, kamu mengucapkan itu dalam kondisimu yang masih bersama orang lain.
Jadi, berhentilah mengucapkan kata-kata seperti itu. Sebab aku juga wanita, dan aku mengerti akan menyakitkan baginya bila ia tahu apa yang kamu ucapkan padaku. Dan maaf, aku menolak untuk kamu tangkap dan kamu letakkan di posisi cadangan. Ini bukan teater di mana ketika pemeran utama berhalangan, akan ada yang dengan senang hati menggantikannya.
Makannya, meski aku masih di posisi ini, situasi ini. Di mana hampir seluruh teman dekatku telah disibukkan oleh pasangan mereka masing-masing dan aku tertinggal di belakang, aku akan tetap bertahan. Sendiri lebih baik, daripada berdua tapi sebagai orang ketiga. Mengertikah kamu? Ahh, kamu gak ngerti-pun gak masalah untukku. Selama aku sendiri mengerti.
Makannya, meski aku masih di posisi ini, situasi ini. Di mana hampir seluruh teman dekatku telah disibukkan oleh pasangan mereka masing-masing dan aku tertinggal di belakang, aku akan tetap bertahan. Sendiri lebih baik, daripada berdua tapi sebagai orang ketiga. Mengertikah kamu? Ahh, kamu gak ngerti-pun gak masalah untukku. Selama aku sendiri mengerti.
Ahh, sepertinya aku harus mengatakan ini bukan hanya untuk kamu, Budi. Tapi juga untuk dia..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar