Minggu, 04 Agustus 2013

Mati Rasa-kah Aku?

"Kita telah terbiasa memajang tawa hingga lupa cara ber-airmata,
atau kita hanya sudah terlalu terluka?

Pernah gak, kalian merasa disakiti tapi air mata kalian ngga menetes keluar? Hanya dada yang semakin sesak dari waktu ke waktu. Sampai bernapas-pun susah payah kalian lakuin?
Hanya pandangan mata yang semakin kabur, akibat oksigen yang tersendat-sendat mengalir dalam tubuh kalian?
Dan rasa kosong yang pahit, menghimpit kemana-pun kaki melangkah. Seperti bayangan yang menempel dan gak pernah lepas dari diri kalian.
Aku pernah. Tepatnya saat ini itulah yang aku rasain.

Kalimat di atas mungkin bisa dengan tepat menggambarkan kondisi aku sekarang. Aku ngga nangis, saat Budi tiba-tiba hilang-timbul di kehidupan aku. Aku ngga nangis, saat aku ketemu orang lain dan ternyata orang itu malah balikan lagi sama mantannya. Aku ngga nangis, waktu cowo baru itu bilang bahwa kondisi dia balik sama mantannya itu ngga penting buat aku tau. Aku ngga nangis, waktu cowo baru itu setelah tanpa kabar selama beberapa saat tiba-tiba bilang rindu, lalu beberapa waktu kemudian memintaku ngga menghubungi untuk sementara waktu. Aku ngga nangis, ketika kusadari aku masih-sangat-begitu sayang sama cowo itu, dan di satu sisi ada Budi, yang tiba-tiba muncul lagi, meski masih dengan kondisi ngga boleh aku harapkan.

Iya, singkatnya aku terjebak di antara dua cowo yang sama-sama udah punya cewe. Tapi sama-sama meminta aku buat tinggal. Masalahnya, aku terlalu pengecut untuk membentak ataupun bersikap kasar ke mereka. Bodoh? Sangat. Naif? Banget.

Klasik. Mungkin begitulah aku bisa mengungkapkan kondisi ini dengan satu kata singkat. Tapi kalau kamu, kalian, mencoba mengintip lebih jauh ke dalam pikiran aku, atau sekedar mencoba benar-benar melihat semuanya dari posisiku, aku pikir mungkin kalian akan mengerti. Yah, sedikit mengertilah paling tidak.

Aku bukannya ingin menyiksa diri. Bukan pula ingin merusak hubungan siapa-pun. Aku hanya gak bisa tiba-tiba berhenti peduli, berhenti bicara, berhenti menatap, dan berhenti segalanya pada orang lain. Hanya itu. Aku ngga bisa tiba-tiba menghilang, tanpa kabar. Meski ya, kuakui aku memerlukan itu. Aku sangat ingin berhenti memiliki hubungan apapun dengan beberapa orang. Tapi sekali lagi, aku terlalu pengecut. Dan terlalu peduli.

Tapi, semenyedihkan apapun kondisi aku sekarang. Semerana apapun aku merangkak buat keluar dari kedua situasi ini, air mataku belum menetes. Ya, belum. Aku sampai mengira kini aku sudah terlalu jauh menjadi cewe dengan hati yang mati rasa terhadap hal-hal yang berbau cinta. Tapi kalau aku mati rasa, kenapa aku masih bisa merasa merana?

Berarti jawaban yang benar adalah, aku sudah terlalu terbiasa memasang kostum "aku-baik-baik-saja" dan topeng "jangan-khawatir-aku-masih-tersenyum-masih-tertawa" ini. Sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya menangis. Sampai-sampai aku tumpul untuk melihat sosok yang bisa menyerap semua air mataku dan mendengarkan setiap rengekanku.

Ya, aku tersesat dan kehilangan pegangan. Padahal mereka, teman-teman baikku, masih di sana. Selalu di sana. Menungguku meraih uluran tangan mereka kembali. Menungguku menyambut rentang tangan yang menawarkan kehangatannya untuk ku dekap erat.

Jadi begitulah,
"Masih banyak nelayan di laut. Dan yang kini harus kulakukan adalah berkutat dengan kail yang sedang melemahkan napasku setiap detiknya, hingga aku menang atau kalah."

Kalian sendiri, apa jawaban kalian untuk kalimat itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar