Jumat, 02 Agustus 2013

The First Unrequited Love as a Colleger

Sangat lucu melihat bagaimana takdir mempermainkan perasaan kita. Bagaimana ia menguji ketetapan hati kita dengan segala kejadian yang mereka sebut, "kebetulan". Meski sebenarnya semua yang ku alami bukan kebetulan. Hanya sekedar keegoisan beberapa oknum yang kukenal.

Aku kira setahun kuliah tidak akan memberiku pengalaman patah hati secepat itu. Tapi ternyata aku salah. Bertemu kamu, kalian, ternyata bisa begitu menyakitkan dan menyebalkan. Meski aku akui, kita juga punya banyak kenangan indah bersama.

Awal kuliah, lingkungan baru, bahasa baru, dan yang jelas orang-orang baru. Ngga ada satupun anak kampus yang aku kenal dari SMA. Menyedihkan? Ngga juga. Menantang menurutku. Tapi tantangan 'adaptasi' masih lebih baik dibandingkan dengan masalah cinta. Iya, cinta. Penyumbang terbesar segala kerumitan hati dan otak yang kita alami semasa hidup.

Sebagai perantau di kota orang, apalagi dengan masih kecilnya lingkaran pergaulanku di sana, aku pikir aku harus bisa melindungi diri sendiri. Lalu di sanalah aku, UKM Shorinji Kempo, di mana semua kerumitan ini berawal dan berakar.

Di sana aku bertemu kamu, ahh kalian sebenarnya, karena sebuah cerita cinta ngga pernah hanya memiliki dua tokoh di dalamnya. Berkenalan, mengobrol, hingga berujung dengan bertambahnya kontak di handphone. Aku kira semua akan berjalan sewajarnya. Tanpa guncangan yang berarti.

Lagi-lagi aku salah. Baru sebulan di sana, aku terlalu jauh berkenalan dengan salah satu senior. Sebut saja dia Budi. Kenapa aku bilang terlalu jauh? Karna dengan naif nya aku menjadi pribadi yang terlalu terbuka. Terlalu tanpa prasangka, begitulah sahabatku selalu menegurku. Kami dekat, bertukar pesan singkat setiap hari, saling memperhatikan, hingga sampai pada tahap kami sering makan bersama. Hingga sampai pada kondisi dimana orang sekitarpun mempertanyakan hubungan kami.

Sejauh ini, aku gak banyak bertanya. Gak menuntut apapun. Gak ingin berharap terlalu besar adalah salah satu alasan diamku. Dan aku bersyukur karenanya. Sebab tiba-tiba, salah satu senior cewek memberitahuku kalau dia sudah punya pacar. LDR. Dari SMA.

Reaksiku? Aku diam, lalu tersenyum. Karna kupikir kami masih dalam batasan wajar. Hanya saja wajar menurut batasanku dan batasannya sepertinya berbeda. Beberapa waktu, dia tetap dengan sikapnya. Perhatian dan caper. Iya caper. Dan tetap dengan tatapan matanya yang tidak memungkinkan siapapun untuk percaya bahwa tidak ada apa-apa diantara kita.

Jujur saja, awalnya aku sempat memiliki tunas-tunas perasaan itu terhadapnya. Tapi begitu ku dengar kabar seperti itu, secepat mungkin ku rubah haluan angin yang berembus. Menganggapnya sebagai abang laki-laki yang ngga pernah aku punya sepertinya lebik baik. Pikirku saat itu.

Tapi sepertinya kamu berpikir lain. Tiba-tiba, kamu menjauh. Iya, hilang begitu saja. Berhenti latihan, berhenti mengirim pesan, berhenti membalas pesan, dan berhenti menatapku. Penjelasanpun nihil. Kabar apalagi. Hanya beberapa orang yang bilang, "Sebenernya kalian itu hampir jadian.". Pfftthh..

Kamu tahu? Aku sebenarnya gak peduli akan jadi pacar kamu atau ngga. Yang bikin aku marah, sakit hati, dan terluka adalah kenyataan bahwa kamu pergi tiba-tiba tanpa penjelasan apapun. Lalu satu semester berlalu begitu saja. Semester selanjutnyapun kamu masih minim kabar. Dan aku? Aku menolak untuk duduk diam menunggu penjelasan yang ngga datang-datang. Aku melangkah, melalui rutinitasku seperti biasa. Sampai akhirnya kamu datang kembali. Dan kusadari aku sudah melangkah terlalu jauh dari perasaan itu. Bisa dibilang aku lelah, lelah dengan sikapmu yang seenaknya. Karna saat kita bertukar kabar lagipun statusmu masih milik orang lain.

Sisa semester kita lalui sebagai teman biasa yang saling bertukar kabar melalui medsos. Dengan sedikit kejutan kecil dari perhatianmu yang kadang tiba-tiba muncul. Dan aku mencoba menanggapinya dengan biasa serta sedikit canda. Sebab akupun tengah mencoba memulai kisah baru. Meski ternyata kalian berdua mirip. Ya, kisah keduaku ternyata tidak selancar yang aku pikir. Hufht..

Tapi, mari kita abaikan sebentar kisah kedua. Yang jujur saja lebih rumit dari kisah aku-Budi. Hemm..
Jadi yang belum aku sampaikan adalah, bahwa di sini, saat ini, ketika jari-jemariku tengah berkolaborasi dengan otakku untuk menceritakan dan mengenang kamu, Budi, kamu tengah memenuhi notif line-ku..
Iya, kamu lagi-lagi muncul tiba-tiba. Menanyakan ID line-ku, nge-chat dengan gak jelasnya, dan tiba-tiba bertanya,
"Hani? Jomblo gag?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar